12/03/2016
TAK PUTUS AKAL...
Ini cerita si Ade, adikku. Mantan taxi driver itu punya lagi kisah tentang bagaimana dia menjalani hidupnya.
Setelah "pensiun dini" sebagai supir taksi, ia mengambil kredit Toyota New Avanza type E putih, si Molek aku menamainya. Menjadikannya mobil antar-sewa. Sesekali dia menginfokan, sedang di Bandara Soetta jemput tamunya, atau menunggu tamunya yang sedang makan di restoran. Apa saja dilakoninya.
Minggu lalu dia buat tiga gebrakan lagi. Untuk membuktikan dia bukan orang yang mudah kehilangan akal menghadapi kehidupan ini.
Entah darimana idenya, ia membuat bibit pohon-pohon cincau, maksudnya tentu jika daunnya melebat ia bisa membuat cincau dan menjualnya.
Sore jelang malam, aku meneleponnya, ia baru saja selesai mendaftarkan sebagai driver uber dan brief aplikasi. Sedang ngacir jalan pulang karena dapat kabar anaknya demam tinggi.
Entah dari mana lagi muncul akalnya, tiba-tiba dia ingin menjual kopi dan makanan segala kue di car free day Cipayung, Minggu kemarin. Maka jibaku lah mamah dan adik-adikku lainnya menyiapkan segala kue mulai sosis solo, kue sus, donat, dadar gulung, martabak mini dan sebangsanya.
Malang tak dapat ditolak, sudah subuh-subuh ia berangkat, dan inposisi. Bagasi mobilnya dijadikan etalase. Tapi hujan turun deras nyaris seharian. "Belum ada yang melirik, Mas" tulisnya. "Tenang, aku pawangi dari jauh" jawabku enteng, dan hujan malah tambah deras.
Siang sedikit masih hujan. Ting. Pesan masuk. "Ada tiga cewek beli, penglaris" tulisnya di WA. Tak berhenti di sana, dia menulis lagi "Ada ibu-ibu nanya ini manis? Itu manis? Aku jawab, manis tapi tidak semanis saya". "Dia beli?" tanyaku. "Enggak. Malah kabur" dan kami kemudian berebutan mengirim ikon tertawa sebanyak-banyaknya.
Aku tahu dia membunuh waktu, dalam hujan yang tak berkesudahan. Tentunya tak sebanyak biasanya orang ke car free day itu.
"Ada yang tanya, mas risolesnya kok besar banget? Aku jawab, ya di dalamnya ada ayam seekor"
Aku balas. "Mas, kok sosis solonya juga besar-besar. Jawab aja, keraton solo ada di dalamnya sekalian"
Ade balas lagi. "Mas, kok donatnya tengahnya bolong. Aku jawab, kalau nggak bolong harganya gak segitu mbak"
Dan, berbalas lagi antara kami berbagai lelucon yang tak lucu-lucu amat. Hingga siang itu dia pulang, beberapa lembar uang hasil jual kue dan minuman itu dia dapat. Tidak banyak memang, tapi sebuah langkah awal yang menjanjikan. Minggu depan dia akan mengulang. Mungkin aku akan bawakan beberapa bungkus nasi uduk.
Biar ada yang tanya. " Mas kok nasi uduknya irisan telornya sedikit? Jawab aja, belum sempat menelor lagi, ayamnya sudah masuk risoles tadi kan?"
Tak perlu malu. Rezeki ditebarkan dan mereka yang mau bergerak akan mendapatkan. Jangan putus akal untuk keras hidup yang makin tak bisa disangkal.