Wanita Tani Indonesia

Wanita Tani Indonesia Swasembada Pangan Nasional

06/04/2026

Berkat Program MBG, Petani di Boyolali ini Bisa Salurkan hingga 40 kg Selada

Boyolali, 5 April 2026 -- Suasana Desa Selo, Kabupaten Boyolali, terasa sejuk. Pada siang hari, kabut mulai turun menyelimuti rumah-rumah serta kebun sayur di desa yang terletak di kaki Gunung Merbabu tersebut.

Namun, udara dingin itu tidak menjadi hambatan bagi Surono (46), seorang petani sayur asal Desa Senden, untuk mencari nafkah.

Di salah satu sudut ruangan, ia terlihat sibuk membersihkan dan mengemas kembang kol segar hasil kebunnya. Setelahnya, ia mengupas bawang merah dan mengemasnya. Seluruh sayur-mayur itu biasanya ia salurkan ke Pasar Cepogo, Kabupaten Boyolali.

"Saya dari kecil sudah berkebun. Menanam macam-macam, ada brokoli, kol putih, bawang merah, kubis, daun bawang, hingga selada yang biasanya dijual di pasar," ujarnya, dikutip Minggu (5/4).

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ia mengaku sering kebanjiran pesanan. Surono mengatakan bahwa belakangan ia menyalurkan hasil kebunnya dalam jumlah besar untuk kebutuhan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia menyebut pesanan tersebut meningkat signifikan. Bahkan, pada satu waktu, ia sempat menerima permintaan sayur-mayur hingga 3 kuintal. Namun, ia mengaku belum mampu memenuhi seluruh permintaan tersebut karena jumlahnya cukup besar.

"Jadi saya paling mengirim selada, paling sekitar 40 kilogram (kg). Kalau selada keriting paling tidak (dikirim) sebanyak satu pikulan," imbuh dia.

Kendati belum dapat memenuhi seluruh permintaan, Surono tetap merasa gembira. Pasalnya, ia kini memperoleh pendapatan yang lebih besar. Selain itu, harga jual yang diterima juga lebih baik dibandingkan sebelum program MBG bergulir.

Ia mengaku sangat terbantu dengan kehadiran MBG dan berharap program tersebut dapat terus berlanjut. Bagi Surono, program MBG memberikan kepastian pasar dengan harga jual yang lebih menguntungkan.

Oleh karena itu, ia berharap program MBG dapat terus berkontribusi positif terhadap pendapatannya, yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.

"Pak Presiden Prabowo Subianto, saya mengucapkan terima kasih atas program MBG. Saya mengucapkan terima kasih sebab membantu sekali bagi petani," lanjutnya.

05/04/2026

Omzet Pedagang Jeruk di Solo Naik Signifikan Berkat Program MBG

Solo, 5 April 2026 - Usaha perdagangan buah-buahan Yanau semakin berkembang sejak adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.

Omzet pedagang grosir jeruk di Solo ini meningkat signifikan. Penjualan jeruk Yanau dalam sehari rata-rata 6-7 kuintal sebelum adanya program MBG.

Kini penjualan jeruknya bisa mencapai 10 kuintal dalam sehari.

"(Program MBG) Berpengaruh banyak ya Mas. Sebelum MBG (penjualan) paling sekitar 6-7 kuintal (per hari). Sekarang bisa 10 kuintal (sehari)," ujar Yanau, dikutip pada Minggu (5/4).

Saat ini sekitar delapan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah menjadi pelanggan Yanau. "(Penjualan jeruk) Kebanyakan sekarang mengandalkan MBG," ucapnya.

Yanau mengaku bersyukur karena program MBG membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Tak hanya membantu anak-anak serta ibu hamil dan menyusui dalam pemenuhan gizi, program MBG juga berdampak positif pada banyak UMKM, termasuk pedagang buah seperti dirinya.

Ia pun berharap program MBG dapat terus berlanjut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Terima kasih Pak Prabowo, penjualan buah jadi lebih lancar berkat program MBG," tutupnya.

05/04/2026

Pedagang Melon di Pasar Gede Solo Rasakan Peningkatan Ekonomi Sejak Ada MBG

Solo, 5 April - Penjual buah-buahan di Pasar Gede Hardjonagoro Solo, Jawa Tengah, merasakan peningkatan ekonomi sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai. Sugeng (44), yang sudah berjualan buah di Pasar Gede selama 24 tahun, menuturkan salah satu buah yang paling laris dibeli Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk MBG adalah melon.

“MBG ambilnya di sini banyak. (Buah yang paling banyak dibeli) melon,” ujar Sugeng saat diwawancara.

Sugeng mengatakan buah-buah yang dijualnya diambil langsung dari para petani di berbagai daerah seperti dari Jombang, Boyolali, dan Madiun. Ia pun bercerita dalam satu hari, buah melon yang terjual dari lapaknya mencapai 2 hingga 4 ton. Menurutnya, sejak ada MBG ada peningkatan secara ekonomi karena harga buah membaik.

“Ada peningkatan. Harga mulai bagus,” katanya.

Ia pun mengaku senang dengan program MBG dan berharap bisa terus berlanjut. Sugeng menilai program MBG tak hanya bermanfaat untuk para penerimanya, tapi juga bermanfaat bagi petani buah.

“Enaknya dilanjut. Mungkin petani hidupnya agak meningkat karena harganya juga bagus. Ada peningkatan,” ucap Sugeng.

“Makasih Pak Prabowo. Kalau sudah ada MBG petani juga ikut senang, penjual ikut senang, semua ikut senang,” tutupnya.

05/04/2026

Dari Kebun ke Dapur, Petani Sayur Boyolali Temukan Harapan Baru Lewat MBG

Boyolali, 4 April 2026 – Pagi di Dukuh Pasah, Desa Senden, Kecamatan Selo, selalu dimulai dengan kesibukan yang sama. Di antara embun yang masih menggantung di daun, Budi mulai bekerja di kebunnya.

Barisan sayuran hijau tampak segar dan siap dipanen. Pakcoy tumbuh rapi, sementara tomat mulai berbuah. Brokoli dan wortel turut melengkapi ragam tanaman yang ia kelola.

“Saya petani hortikultura, menanam berbagai jenis sayuran seperti pakcoy, tomat, brokoli, wortel, dan lainnya,” ujar Budi saat ditemui di kebunnya.

Selama ini, hasil panen Budi tidak langsung sampai ke konsumen. Ia bersama petani lain mengandalkan pengepul yang kemudian menyalurkan hasil tani ke pasar-pasar besar seperti Cepogo, Bandungan, hingga Sragen. Rantai distribusi tersebut telah berlangsung lama, dengan harga yang kerap tidak menentu.

Namun, belakangan mulai ada perubahan yang dirasakan. Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka jalur distribusi baru yang lebih dekat dan lebih pasti. “Sejauh ini sudah ada kerja sama dengan MBG, tapi kapasitasnya masih terbatas,” kata Budi.

Saat ini, Budi baru menyuplai kebutuhan untuk satu dapur MBG, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Podo Moro di Gebyog. Meski skalanya masih kecil, dampaknya sudah mulai terasa.

Setiap hari, dapur tersebut membutuhkan sekitar 50 kilogram pakcoy, 30 kilogram tomat, dan 20 kilogram selada. Menariknya, pasokan tersebut kini dapat dipenuhi langsung dari petani.

Skema ini tidak hanya memangkas rantai distribusi, tetapi juga memberikan kepastian pasar bagi petani. Bagi Budi, hal ini bukan sekadar transaksi, melainkan tentang keberlanjutan usaha tani.

“Program MBG ini sangat membantu, karena harga sayuran bisa lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.

Harga yang lebih stabil memberi ruang bagi petani untuk berkembang. Pendapatan meningkat, dan hasil panen tidak lagi sepenuhnya bergantung pada fluktuasi pasar tradisional.

“Dari sisi ekonomi tentu menambah pendapatan kami sebagai petani. Selain itu, serapan komoditas di dukuh kami juga menjadi lebih beragam,” jelasnya.

Budi berharap program ini dapat terus diperluas. Saat ini, baru sebagian kecil hasil panen yang terserap oleh dapur MBG. Ke depan, ia berharap lebih banyak petani terlibat dan lebih banyak komoditas lokal yang dapat diserap.

“Program MBG ini sangat baik untuk dilanjutkan. Ke depan, mungkin bisa lebih dievaluasi agar kebutuhan dapur bisa semakin banyak menyerap produk kami. Ini sangat membantu,” ungkapnya.

Bagi Budi, MBG bukan sekadar program bantuan atau proyek pemerintah. Program ini menjadi jembatan yang menghubungkan ladang dengan dapur, petani dengan pasar, serta kerja keras dengan hasil yang lebih layak.

Di akhir perbincangan, ia menyampaikan harapan sederhana kepada Presiden Prabowo Subianto. “Terima kasih, Pak Prabowo Subianto. Semoga program MBG terus berlanjut. Panjang umur dan sehat selalu,” tutupnya.

05/04/2026

Kisah Petani Sayuran di Lereng Merapi: Penghasilan Melonjak Berkat Program MBG

*Boyolali, 4 April 2026* - Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Kecamatan Selo, Boyolali, kehidupan petani perlahan berubah.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Yusron Soleh (30), petani muda asal Dusun Pasah, Desa Senden.

Sejak kecil, Yusron telah akrab dengan dunia pertanian, mengikuti jejak keluarganya yang lebih dulu menggantungkan hidup dari tanah.

Setiap hari, Yusron mengelola lahan yang ditanami berbagai jenis sayuran. Tomat menjadi komoditas utama, namun ia juga menanam brokoli, selada, sawi sendok, hingga pakcoy.

Hasil panennya biasa ia jual ke Pasar Cepogo, pasar tradisional yang menjadi tumpuan banyak petani di wilayah tersebut.

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, Yusron merasakan perubahan signifikan. Program MBG yang digagas oleh Prabowo Subianto disebutnya membawa dampak langsung terhadap peningkatan penjualan hasil pertanian.

“Iya, berpengaruh. Untuk penjualannya sangat tinggi sekarang,” ujar Yusron saat ditemui di lahan pertaniannya, ditulis Sabtu (4/4).

Menurutnya, permintaan sayuran meningkat, terutama untuk kebutuhan dapur SPPG. Ia kini lebih sering memasok pakcoy dan selada, yang permintaannya terus naik. Kondisi ini berdampak pada harga jual yang lebih baik dibanding sebelumnya.

“Iya, harganya bagus. Ekonominya bisa naik,” katanya singkat.

Peningkatan tersebut bukan hanya dirasakan pada volume penjualan, tetapi juga pada stabilitas pendapatan.

Yusron mengaku, hasil yang ia dapatkan kini lebih mampu memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.

“Sekarang ada peningkatan. Bisa untuk mencukupi keluarga, dan nabung sedikit-sedikit,” ujarnya.

Sebagai ayah dari satu anak, Yusron melihat perubahan ini sebagai harapan baru bagi masa depan keluarganya. Ia pun berharap program tersebut tidak berhenti di tengah jalan.

“Harapannya ke depan bisa berlanjut terus,” kata Yusron.

Raut wajahnya tampak sumringah saat menceritakan perubahan yang ia alami. Baginya, perhatian terhadap sektor pertanian adalah kunci untuk meningkatkan kesejahteraan petani desa.

Di akhir perbincangan, Yusron menyampaikan rasa terima kasihnya.

“Terima kasih Pak Prabowo. Semoga program ini terus berlanjut dan membawa manfaat lebih luas,” tuturnya.

Kisah Yusron menjadi gambaran kecil bagaimana kebijakan dapat langsung menyentuh kehidupan petani.

Dari ladang sederhana di Selo, harapan itu kini mulai tumbuh bersama setiap panen yang semakin menjanjikan.

03/04/2026

Berkat MBG, Kelompok Tani Wanita di Karanganyar Lebih Mudah Salurkan Panen Sayuran

Karanganyar, 3 April 2026 — Kelompok Tani Wanita (KWT) Sumber Lestari di Desa Klodran, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, bersyukur dengan keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program MBG membuat panen sayuran yang mereka budi dayakan mudah terserap.

“Tinggal calling-calling saja, nanti saya siapkan untuk sayur-sayurnya. Kita tinggal konfirmasi kapan kita panen, kapan kita bisa mengirimnya,” kata Ketua KWT Sumber Lestari, Sri Utami, Jumat (3/4).

KWT Sumber Lestari membudidayakan sejumlah sayuran, yakni selada, pokcoy, sawi, tomat, jahe, kangkung, kacang panjang, dan gambas. Sayur-mayur itu sebagian besar diserap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG.

Biasanya, dapur MBG memesan sampai 100 kilogram sayur. Namun, karena keterbatasan anggota dan lahan, KWT Sumber Lestari baru mampu memenuhi atau memasok setengahnya.

Sri mencontohkan saat dapur MBG membutuhkan pasokan selada sebanyak 100 kilogram, KWT ini baru bisa memenuhi sebanyak 50 kilogram.

Untuk panen sayuran, KWT Sumber Lestari rata-rata membutuhkan waktu dua minggu. Harga yang ditetapkan cukup tinggi, yakni untuk satu kilogram selada dihargai Rp20 ribu.

“Jadi ada dua minggu sekali baru kita panen. Satu greenhouse ini sekitar l50 kilogram,” kata Sri.

KWT Sumber Lestari berdiri sejak 25 Februari 2025. KWT ini memberdayakan perempuan di empat rukun warga di Desa Klodran. Anggotanya saat ini sebanyak 18 perempuan.

Untuk pengiriman, para perempuan ini terkadang mengantarkan sendiri pesanan dari dapur MBG.

“Ya, kalau pas waktu panen itu ngikut ngantar biasanya. Ikut ngantar ke SPPG-nya. Bersama-sama diangkut pakai motor,” kata Sri.

Dewi Hasyim

18/03/2026
Momen Pak Wamentan / Ketua HKTI Periksa Kesehatan di Ramadhan Fest Wanita Tani Indonesia  HKTI
10/03/2026

Momen Pak Wamentan / Ketua HKTI Periksa Kesehatan di Ramadhan Fest Wanita Tani Indonesia HKTI

Enjoy the videos and music you love, upload original content, and share it all with friends, family, and the world on YouTube.

09/03/2026

Penyerahan paket sembako kepada tim panitia yang telah bekerja keras dalam suksesnya acara ini

09/03/2026

Terima Kasih Atas Dukungan Dan Support nya atas terselenggaranya kegiatan Festival Ramadhan Wanita Tani Indonesia HKTI

Festival Ramadhan Wanita Tani Indonesia
08/03/2026

Festival Ramadhan Wanita Tani Indonesia

JAKARTA,  Festival Ramadan yang digelar Wanita Tani Indonesia (Wantan) HKTI resmi ditutup pada...

Address

Kantor Kementerian Pertanian RI Harsono Rm Ragunan Jakarta Selatan
South Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Wanita Tani Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Wanita Tani Indonesia:

Share