20/10/2026
Citra satelit NASA menunjukkan konsentrasi karbon monoksida (CO) tinggi di atmosfer Indonesia sejak awal Oktober.
Gas ini diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan, meski data pada ketinggian sekitar 5.500 meter belum cukup untuk memastikan risiko paparan bagi masyarakat.
Karbon monoksida merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dapat menghambat pengangkutan oksigen dalam darah.
Paparan CO dapat menyebabkan sakit kepala, mual, pusing, hingga sesak napas. Dalam kondisi berat, keracunan dapat mengakibatkan kejang, koma, bahkan kematian.
Selain karhutla, CO dapat berasal dari kendaraan bermotor dan pembakaran bahan bakar yang tidak sempurna.
Gas ini juga berisiko menumpuk di ruangan tertutup akibat penggunaan kompor atau mesin kendaraan.
Jika dicurigai terjadi keracunan, segera bawa korban menjauh dari sumber gas ke tempat terbuka yang aman dan cari pertolongan medis.
Hindari memasuki area tercemar tanpa perlindungan yang memadai.
Sumber: cnnindonesia.com