Teungku aceh

Teungku aceh sejarah dan kebudayaan aceh juga ilmu pengetahuan

Ingatlah kepada sang khaliq
24/09/2020

Ingatlah kepada sang khaliq

BismillahAlhamdulillah sudah diizinkan untuk menyebarkan tulisan ini  baik2....Kami yang awam ini bukan tak percaya adan...
21/09/2020

Bismillah
Alhamdulillah sudah diizinkan untuk menyebarkan tulisan ini

baik2....
Kami yang awam ini bukan tak percaya adanya virus corona, jangankan virus yang masih se-alam, sama-sama alam fisika, malaikat dengan jin yang beda alam pun kami percaya, padahal alam mereka metafisika.

Sehalus-halusnya virus masih ada mikroskop untuk meneliti, tapi jin dan malaikat belum ada alat untuk deteksi selain kemenyan dengan jampi-jampi.

Bukan p**a kami curiga kepada paramedis yang mati-matian sampai dengan mati benaran berjibaku menyelamatkan pasien corona, karena kami sangat yakin tak ada KONTRAKTOR yang sukarela terima proyek membersihkan gigi buaya, kecuali buaya darat.

Kami hanya tak percaya dengan kebijakan pemimpin negeri ini dalam menghadapi pandemi.

Bayangkan...
Saat virus ini dimulai dari Cina, sampai hari ini "bangsatwan" dari negeri tersebut bebas keluar masuk, bahkan diberi fasilitas istimewa.

Ketika semua negara menutup pelabuhan dan bandara, pemimpin negeri ini malah sibuk promosi pariwisata.

Saat negara lain fokus menyelamatkan nyawa, pemerintah republik ini sibuk menyelamatkan devisa.

WHO telah umumkan antivirusnya belum ada, seharusnya antibodi menjadi tumpuan. Tapi pemerintah secara sistematis menggerus imunitas tubuh dengan pemberitaan korban corona terus menerus.

Seharusnya ruang ibadah, ruang belajar, ruang kerja, dan ruang sosial menjadi tempat mengecas imun, tapi semua ditutup agar kita fokus menahan serangan virus tanpa tameng tanpa senjata.

Refocusing anggaran di mana-mana, pegawai yang seharusnya kerja, sekarang hanya melamun saja. Proyek yang menyerap tenaga kerja terhenti dan ekonomi pun merana.
Rakyat disubsidi dengan dana desa, warga menumpuk menanti jatahnya.

Kenapa tidak dibuka lahan tani, kebun dan ternak seluas-luasnya, agar masyarakat bisa beraktivitas dan melupakan corona.

Pastikan hasil usaha mereka diserap pasar, atau dibeli oleh pemerintah dengan anggaran corona walaupun untuk "dibuang" semua.

Sekurang-kurangnya, badan mereka sehat karena keringat mengucur, jiwa mereka kuat karena ada harapan yang menggiur.

Biarkan mereka tetap belajar agar masa depan mereka makmur, aktifkan ruang-ruang sosial agar mereka terhibur, dorong mereka beribadat, Kalaupun mati karena corona minimal selamat di dalam kubur.

Kawan-kawan paramedis, kuatlah... kami tidak melawan Anda, kami hanya melawan kebijakan yang salah kaprah, yang setiap hari terus berubah, bukan hanya kebijakan, bahkan termasuk istilah.

Kami pun bingung dengan peraturan-peraturan yang cenderung menyingkirkan akal sehat.
Dimana disatu sisi, diwajibkan pemakaiannya dari jenis apapun tidak dipermasalahkan, yang penting pakai, disangsi jika tidak digunakan, tapi disisi lain, ada klasifikasikasi yang boleh dan jangan dipakai.

Belum lagi peraturan dimana sedang sendiri pun, diwajibkan tetap dipakai. Sementara dari teori yang ada, dia menyebar lewat droplet. Tidak terbang di udara sepertinya halnya virus penyakit lain.

Rakyat yang menghadiri upacara pemakaman dibubarkan dengan alasan berkerumun, padahal sudah memakai protokol, sementara disidang razia masker mereka berkerumun kok tidak dibubarkan juga?
Dan tempo hari, ketika ada elemen rakyat yang berdemo dan dangdutan di pilkada pun tidak dibubarkan.
Jadi mau dibawa kemana arahnya peraturan ini ???
Peraturan suka-suka kah?

Dan..
Mohon dijelaskan, pasien positif corona yang sudah sembuh, sembuh karena obat ataukah sembuh dengan sendirinya...?

Kalau sembuh dengan obat, apa nama obatnya...?

Kalau sembuh dengan sendirinya, untuk apa buang-buang waktu, tenaga, biaya bahkan nyawa...?

Kalau yang meninggal disebabkan karena penyakit penyerta, kenapa sibuk mengurus orang yang tanpa gejala...?

Kalau yang meninggal karena salah diagnosa, bagaimana merevisi datanya...?
Kenapa tidak disampaikan juga...?

Wahai akal sehat p**anglah kembali ke Indonesia, bila tidak pergilah selamanya...Karena saudara kami yang mengalami gangguan jiwa, sampai hari ini baik-baik saja.

Kerumunan artis di dukung..
Pengajian di permasalahkan..
Ulama dan kyai di hajar dan mau di musnahkan..
Mall dan tempat karaoke di buka..
Masjid dan sekolah di tutup..

Wahai akal sehat??
Di manakah dirimu..
Kembalilah wahai akal sehat.
Kami rindu akan akal2 sehat..

Wahai Indonesiaq..
Wahai bumi pertiwi..
Kita menangis sama2 kini..
😭😭😭😭😭😭

Lagi panen ikan
19/09/2020

Lagi panen ikan

19/09/2020

Kecelakaan di depan galon gintong pidie, hati2 lah di jalan.!! "

‏اللهم يا سامع دعاء العبد اذا دعاك، ويا شافي المريض بقدرتكاللهم اشفها شفاء لا يغادر سقما اللهم البسها لباس الصحة والعافي...
19/09/2020

‏اللهم يا سامع دعاء العبد اذا دعاك، ويا شافي المريض بقدرتك
اللهم اشفها شفاء لا يغادر سقما اللهم البسها لباس الصحة والعافيةال ابيناالحج سفيان مهدي بن بايك اللهم يامن تعيد للمريض صحته وتستجيب دعاء البائس الفقير يارب اشفيها وخفف عنها ألمها ورد إليها عافيتها وافتح لها باب السعاده بالشفاء💔

  KISAH CUCU RASULULLAH TERBUNUH"Kepala Imam Husain as Berbicara kepada Pendeta"Allamah Damiri, salah seorang ulama terk...
19/09/2020




KISAH CUCU RASULULLAH TERBUNUH

"Kepala Imam Husain as Berbicara kepada Pendeta"

Allamah Damiri, salah seorang ulama terkenal Ahlusunah, dalam buku Hayatul Hayawan, di bawah kata Yahya mengatakan : ada tiga kepala yang terpisah dari raganya dan berbicara kepada orang lain. Yaitu kepala suci Nabi Yahya as, Imam Husain bin Ali as, dan kepala Sa‘id bin Jubair.

Pada saat pasukan Ibnu Ziyad berhenti di samping biara seorang pendeta, mereka meletakkan kepala Imam Husain as di dalam peti. Sementara menurut riwayat Quthub Rawandi, kepala itu ditancapkan di ujung tombak. Mereka duduk melingkar untuk menjaganya.

Mereka menghabiskan malam dengan meminum minuman keras. Kemudian mereka membentangkan makanan dan sibuk memakannya. Tiba tiba mereka melihat dari dinding biara keluar sebuah tangan. Lalu dengan pena dari besi tangan itu menuliskan syair berikut di atas dinding:

"Apakah umat yang sudah membunuh Husain, masih mengharap syafaat kakeknya pada hari perhitungan?"

Karena melihat kejadian itu, mereka tidak lagi berselera makan. Mereka segera tidur karena ketakutan. Pada tengah malam, seorang pendeta mendengar suara ratapan. Pendeta itu juga mendengar seseorang yang sedang mengucapkan zikir dan tasbih.

Dia bangun dan mengeluarkan kepalanya ke jendela. Dia melihat dari sebuah peti yang diletakkan di samping dinding, ada cahaya terang terpancar ke langit. Lalu secara berkelompok para malaikat turun dan mengucapkan,

“Salam sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah. Salam sejahtera bagimu wahai Aba Abdillah. Salawat dan salam Allah bagimu.”

Melihat kejadian ini, pendeta itu terkejut dan ketakutan. Dia menunggu dengan sabar hingga masuk waktu Subuh. Setelah tiba waktu Subuh, dia keluar dari biara dan bertanya, ”Apa isi peti ini?"

Mereka menjawab, “Kepala Husain bin Ali."

Pendeta itu bertanya lagi, “Siapa nama ibunya?"

Mereka menjawab, "Fathimah Zahra, putri Muhammad Musthafa saw."

Pendeta itu berkata, “Celaka kalian, atas apa yang telah kalian lakukan! Sungguh benar apa yang diberitahukan para rahib kami bahwa pada manakala orang ini terbunuh maka langit nkan menurunkan hujan darah. Dan ini tidak akan terjadi kecuali dia seorang nabi atau seorang washi (penerima wasiat) nabi.

Sekarang, aku mohon kepada kalian untuk menyerahkan kepala ini selama satu jam kepadaku. Setelahnya, aku akan kembalikan lagi kepada kalian."

Mereka berkata, “Kami tidak akan mengeluarkan kepala ini kecuali di hadapan Yazid supaya kami mendapat hadiah darinya."

Pendeta itu bertanya, "Apa hadiahnya?"

Mereka menjawab, “Satu kantong uang berisi sepuluh ribu dirham."

Pendeta itu berkata, “Saya akan berikan uang sejumlah itu kepada kalian.”

Kemudian pendeta itu mengambil kantong uang yang berisi sepuluh ribu dirham. Mereka mengambil uang itu dan memberikan kepala suci Imam Husain kepada pendeta tersebut selama satu jam.

Pendeta itu membawa kepala itu ke tempat ibadahnya. Lalu membasuhnya dengan air bunga dan memberinya wewangian. Setelah itu, ia meletakkannya di tempat sujudnya. Lalu ia menangis dan berkata kepada kepala itu,

"Wahai Aba Abdillah, sungguh aku sangat menyesal tidak berada di Karbala hingga dapat mempersembahkan nyawaku untukmu. Wahai Aba Abdillah, kapan saja engkau bertemu dengan kakekmu, berilah kesaksian bahwa aku telah mengucapkan syahadah dan masuk Islam di hadapanmu.”

Sebagian meriwayatkan:

Pendeta itu berkata kepada kepala suci, “Hai kepala pemimpin alam semesta. Aku menyangka engkau bagian dari orang orang yang telah Allah gambarkan di dalam Taurat dan Injil dan telah diberikan keutamaan takwil oleh Nya. Karena para pemimpin Bani Adam di dunia dan di akhirat menangisimu. Aku ingin mengenal nama dan sifatmu."

Kepala yang suci itu menjawab, “Akulah orang yang teraniaya. Akulah orang yang bersedih. Akulah orang yang berduka. Akulah orang yang dibunuh oleh pedang kezaliman. Akulah orang yang dizalimi dengan perang melawan orang durhaka. Akulah orang yang dengan tanpa dosa, hartanya dirampas. Akulah orang yang dicegah untuk mendapatkan air. Akulah orang yang diusir dari keluarga dan negerinya."

Pendeta Kristen itu berkata, "Demi Allah, hai kepala suci, jelaskan tentang dirimu lebih jelas lagi."

Kepala itu berkata, “Akulah putra Muhammad Musthafa. Akulah putra Ali Murtadha. Akulah putra Fathimah Zahra. Akulah putra Khadijah Kubra. Akulah putra al ‘Urwatal Wutsqa. Akulah syahid Karbala. Akulah orang yang terbunuh di Karbala. Akulah yang teraniaya di Karbala. Akulah yang kehausan di Karbala.”

Ketika murid-murid pendeta itu melihat hal ini, mereka menangis dan mematahkan tiang Salib. Lalu mereka datang kepada Imam Ali Zainal Abidin as dan berikrar masuk Islam.

انا لله و انا اليه راجعونTelah berp**ang kerahmatullah Ulama Madinah Al MunawwarahAl Habib Umar Bin Abdurrahman Al Jufri...
19/09/2020

انا لله و انا اليه راجعون

Telah berp**ang kerahmatullah Ulama Madinah Al Munawwarah

Al Habib Umar Bin Abdurrahman Al Jufri
Kamis 17 September 2020

Semoga Allah senantiasa merahmati beliau dan mengangkat tinggi derajatnya

Keturunan portugis yang ada di Aceh
19/09/2020

Keturunan portugis yang ada di Aceh

KISAH WALIYULLAH IBRAHIM BIN ADHAMKELIRU MENGAMBIL PELAJARANSyaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikena...
18/09/2020

KISAH WALIYULLAH IBRAHIM BIN ADHAM

KELIRU MENGAMBIL PELAJARAN

Syaqiiq al-Balkhi adalah teman Ibrahim bin Adham yang dikenal ahli ibadah, zuhud dan tinggi tawakalnya kepada Allah. Hingga pernah sampai pada tataran enggan untuk bekerja.

Penasaran dengan keadaan temannya, Ibrahim bin Adham bertanya,

“Apa sebenamya yang menyebabkan Anda bisa seperti ini?”

Syaqiiq menjawab,

“Ketika saya sedang dalam perjalanan di padang yang tandus, saya melihat seekor burung yang patah kedua sayapnya.

Lalu saya berkata dalam hati, aku ingin tahu, dari mana burung itu mendapatkan rizki. Maka aku duduk memperhatikannya dari jarak yang dekat.

Tiba-tiba datanglah seekor burung yang membawa makanan di paruhnya. Burung itu mendekatkan makanan ke paruh burung yang patah kedua sayapnya untuk menyuapinya.

Maka saya berkata dalam hati, ;
“Dzat yang mengilhami burung sehat untuk menyantuni burung yang patah kedua sayapnya di tempat yang sepi ini, pastilah berkuasa untuk memberiku rejeki di manapun aku berada.”

Maka sejak itu, aku putuskan untuk berhenti bekerja dan aku menyibukkan diriku dengan ibadah kepada Allah.

Mendengar penuturan Syaqiiq tersebut Ibrahim berkata,

“Wahai Syaqiiq, mengapa kamu serupakan dirimu dengan burung yang cacat itu?.
Mengapa Anda tidak berusaha menjadi burung sehat yang memberi makan burung yang sakit itu?,

Bukankah itu lebih utama?.

Bukankah Nabi bersabda, ;

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah?”

Sudah selayaknya bagi seorang mukmin memilih derajat yang paling tinggi dalam segala urusannya, sehingga dia bisa mencapai derajat orang yang berbakti?

Syaqiiq tersentak dengan pernyataan Ibrahim dan ia menyadari kekeliruannya dalam mengambil pelajaran.
Serta merta diraihnya tangan Ibrahim dan dia cium tangan itu sambil berkata, ;
“Sungguh. Anda adalah ustadzku, wahai Abu Ishaq (Ibrahim).”

(Tarikh Dimasyqi, Ibnu Asakir)

Address

Pidie

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Teungku aceh posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Teungku aceh:

Share

Category