05/09/2026
MEMBENCI POLISI, TAPI MENGHALALKAN SEGALA CARA MENJADI POLISI
Dr Ufran, S.H., M.H.
Ketua Departemen Hukum Pidana FHISIP UNRAM
Kasus seorang pemuda asal Bima yang mengaku menyerahkan Rp550 juta karena dijanjikan lolos menjadi anggota Polri melalui “jalur khusus” pada Desember 2025 menyisakan pertanyaan: mengapa masih ada orang yang percaya seragam polisi dapat diperoleh dengan uang, koneksi, atau orang dalam?
Polda NTB menegaskan penerimaan Polri dilakukan melalui jalur reguler dengan prinsip BETAH: Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis. Tidak ada jalur khusus.
Namun, persoalannya lebih besar dari sekadar penipuan.
Di satu sisi, polisi dikritik ketika terjadi penyalahgunaan kekuasaan. Di sisi lain, profesi polisi tetap diminati, bahkan ada yang ingin memperolehnya melalui cara yang melanggar aturan.
Di situlah paradoksnya.
Masalah muncul ketika seragam tidak lagi dipandang sebagai amanah, tetapi sebagai investasi. Ketika uang untuk “mengurus” kelulusan dianggap modal, jabatan berpotensi dipandang sebagai sesuatu yang harus memberikan keuntungan.
Padahal, kewenangan negara bukan barang dagangan.
Rekrutmen polisi bukan sekadar mendapatkan pekerjaan. Polisi menerima kewenangan besar dari negara. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, “Bagaimana caranya supaya anak saya lulus?” Tetapi juga, “Apakah ia pantas memegang kekuasaan yang diberikan negara?”
Ketika calon penegak hukum sejak awal diajarkan mencari jalan belakang, persoalannya bukan hanya tentang uang. Ada pendidikan moral yang keliru.
Tidak konsisten membenci nepotisme ketika dilakukan orang lain, tetapi mencarinya ketika anak sendiri mengikuti seleksi.
Paradoks terbesar kita bukan sekadar membenci polisi sekaligus ingin menjadi polisi.
Paradoksnya adalah membenci penyalahgunaan kekuasaan ketika menjadi korban, tetapi bersedia menggunakannya ketika memperoleh keuntungan.
Karena itu, seragam polisi bukan investasi yang harus dikembalikan.
Ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Jangan mengajari calon penegak hukum bahwa untuk menjadi penegak hukum, ia terlebih dahulu harus belajar mengakali aturan.
Baca lengkapnya 👇👇👇
https://mbojoinside.com/membenci-polisi-tapi-menghalalkan-segala-cara-menjadi-polisi/