14/03/2026
"I’tikaf Bukan Ngobrol
I’tikaf adalah ibadah untuk menyendiri bersama Allah. Bukan ajang kumpul, bercanda, atau memperbanyak obrolan. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Janganlah kalian campuri mereka (istri-istri kalian) sedang kalian beri’tikaf di masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Ayat ini menunjukkan bahwa i’tikaf adalah ibadah khusus yang menjaga fokus hati dan anggota badan di dalam masjid. Bahkan perkara yang asalnya halal saja dilarang ketika i’tikaf, demi menjaga kesungguhan dalam mendekat kepada Allah.
Rasulullah ﷺ memberi teladan nyata,
كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Nabi ﷺ beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga Allah mewafatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ketika telah masuk sepuluh malam terakhir, beliau ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan sarungnya (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan kesungguhan dalam ibadah, bukan sibuk berbincang tanpa arah.
Masjid adalah tempat dzikir, tilawah, shalat, dan doa. Maka orang yang beri’tikaf seharusnya menjaga lisannya. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ngobrol seperlunya tidaklah terlarang. Namun menjadikan i’tikaf sebagai waktu bercanda, diskusi dunia, atau kumpul-kumpul panjang adalah menyelisihi ruh ibadah ini.
Datanglah untuk memperbaiki hati, diamlah untuk memperbanyak dzikir, menangislah untuk memohon ampun atas dosa-dosa. Karena i’tikaf adalah tentang mendekat kepada Allah, bukan kembali mendekat kepada dunia."