Cahaya ilmu

Cahaya ilmu ilmu adalah cahaya kehidupan

20/12/2024
30/05/2024

KITAB SIYAM ( PUASA ) 10 ( TAMAT )

Macam –macam orang yang tidak berpuasa menurut kewajibannya ada empat :

1. Orang yang wajib mengqadak puasa dan membayar fidyah ada dua :
1. Apabila seseorang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan keselamatan orang lain seperti perempuan hamil atau yang menyusui tidak berpuasa karena mengkhawatirkan keselamatan janin atau bayinya . Adapun apabila seseorang tidak berpuasa karena mengkhawatirkan keselamatan dirinya dan orang lain maka ia hanya wajib mengqadak puasanya saja tidak wajib membayar fidyah .
2. Apabila seseorang tidak menqadak puasa ramadlanya tahun dulu sampai masuk ramadlan tahun ini tanpa uzur yang dibenarkan , maka ia wajib mengqadak puasanya itu dan membayar fidyah .

▪Fidyahnya adalah 1 mud ( 625 gr ) beras atau makanan pokok daerah setempat dan fidyah ini akan bertambah sampai ia membayarnya . Contohnya apabila tahun dulu ia wajib membayar 10 mud tapi sampai tahun ini ia belum juga membayarnya maka tahun ini ia wajib membayar 20 mud begitu seterusnya .

2. Orang yang wajib mengqadak saja , tidak wajib membayar fidyah ada tiga yaitu :
1. Orang yang terkena penyakit ayan .
2. Orang yang lupa berniat puasa malam hari .
3. Orang yang sengaja membatalkan puasanya dengan selain jima’.

3. Orang yang wajib membayar fidyah saja , tidak wajib mengqadak ada dua yaitu :
1. Orang tua yang sudah tidak mampu lagi untuk menjalankan puasa .
2. Orang sakit yang tidak / jauh kemungkinan sembuhnya .

4. Orang yang tidak ada kewajiban sama sekali ( baik qadak atau fidyah ) ada satu yaitu :
1. Orang gila yang tidak sengaja membuat dirinya gila .

○ Keadaan orang-orang yang wajib mengqadak puasanya dan kewajiban menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sampai magrib ada enam yaitu :
1. Orang yang sengaja membatalkan puasanya .
2. Orang yang lupa berniat puasa pada malam hari .
3. Orang yang makan sahur karena mengira belum terbit fajar tetapi ternyata sudah terbit fajar .
4. Orang yang berbuka puasa karena mengira matahari sudah terbenam tetapi ternyata belum terbenam .
5. Orang yang mengetahui bahwa tanggal 30 sya’ban itu adalah tanggal 1 ramadlan sedangkan ia tidak berpuasa .
6. Orang yang kemasukan air waktu berkumur yang tidak diperintahkan oleh syariat .

○ Hal-hal yang tidak membatalkan puasa walaupun masuk sesuatu ke dalam rongga badan ada tujuh :
1. Sesuatu yang masuk ke dalam rongga , dalam keadaan lupa .
2. Sesuatu yang masuk ke dalam rongga sedangkan ia tidak tahu kalau hal itu membatalkan puasa .
3. Sesuatu yang masuk ke dalam rongga dengan dipaksa dengan adanya syarat-syarat pemaksaan yang dibenarkan .
4. Air ludah yang bersih yang berada di antara gigi –gigi masuk ke dalam rongga .
5. Debu jalanan yang masuk ke dalam rongga badan .
6. Tepung , baik beras atau ketan atau yang lainnya .
7. Lalat baik di rumah atau di jalan

Beberapa masalah dalam puasa .

1. Apabila seorang anak jadi balig , orang sakit jadi sembuh atau orang musafir jadi mukim sedangkan mereka dalam keadaan berpuasa , maka wajib atas mereka untuk menahan diri / tidak boleh membatalkan puasanya .
2. Apabila perempuan haid atau nifas jadi suci , orang gila jadi sadar atau orang kafir masuk islam semuanya pada pertengahan ramadlan , maka disunnahkan atas mereka untuk menahan diri dari hal –hal yang membatalkan puasa , dan orang kafir dan orang gila tadi tidak wajib mengqadak puasanya .
3. Orang murtad wajib mengqadak puasanya selama masa murtadnya walaupun pernah terkena gila di pertengahannya .
4. Termasuk kesalahan yang patal atas sebagian orang adalah ketika mereka mendengar azan subuh mereka beramai-ramai minum dengan keyakinan bahwa waktu sahur masih ada , padahal hal itu tidak boleh karena dapat membatalkan puasa dan ia wajib mengqadaknya apabila puasa itu pardu , hal itu karena muazzin mengumandangkan azan sesudah masuk waktu subuh .
5. Apabila seseorang meninggal sedangkan ada kewajiban untuk mengqadak puasa , maka boleh bagi walinya untuk menggantikannya dengan puasa atau dengan membayarkannya fidyah setiap puasa 1 mud .
6. Dibolehkan pada puasa sunnah untuk membatalkan puasanya walaupun tanpa uzur , lain halnya dengan piasa fardu maka tidak boleh , baik ramdlan , qadak , atau nazar .
7. Haram hukumnya melakukan puasa wishal ( menyambung hari ini dengan besok tanpa berbuka di antaranya ) .
8. Wajib hukumnya mengqadak puasa fardu dengan segera apabila ia membatalkannya dulu tanpa uzur , sedangkan apabila karena uzur , maka boleh ia menundanya sampai waktu ia mungkin berpuasa .
9. Apabila ada orang melakukan hal-hal yang membatalkan puasa maka apabila orang itu adalah orang alim yang salih maka sunnah kita menegurnya , tapi apabila orang itu adalah orang biasa maka wajib kita menegurnya .

===================================

○ أقسام الإفطار باعتبار ما يلزم بسببه : أربعة :

● ما يلزم فيه القضاء و الفدية : اثنان :
١- الإفطار لخوف على غيره، كفطر الحامل لخوفها على جنينها و المرضع لخوفها على رضيعها.
اما إذا افطرتا خوفا على انفسهما وعلى طفلهما فليس عليهما إلا القضاء فقط.
٢- الإفطار مع تأخير القضاء مع إمكانه حتى أتى رمضان آخر بغير عذر.
الفدية : هي : مد واحد لكل يوم من غالب قوت البلد، وتتكرر الفدية بتكرر السنين.
● ما يلزم فيه القضاء دون الفدية : كالمغمى عليه و ناسي النية والمتعمدي بفطره بغير ج**ع.
● ما يلزم فيه الفدية دون القضاء : كشيخ كبير، والمريض الذي لا يرجى برؤه.
● ما لا يلزم فيه القضاء و لا الفدية : كفطر المجنون غير المتعدي بجنونه.

○ حالات وجوب القضاء مع الإمساك إلى الغروب : ست :
١- على متعد بفطره
٢- على تارك النية ليلا ولو سهوا
٣- على من تسحر ظانا بقاء الليل فبان خلافه
٤- على من افطر ظانا الغروب فبان خلافه
٥- على من بان له يوم ثلاثين شعبان أنه من رمضان
٦- على من سبقه ماء غير مشروع "غير مأمور به" : من مضمضة او استنشاق أو غسل.

○ حالات عدم الفطر بوصول عين إلى الجوف من منفذ مفتوح : سبع :
١- ما وصل إليه بنسيان
٢- ما وصل إليه مع الجهل بفطره وكان الجاهل ممن يعذر بجهله
٣- ما وصل إليه مع الاكراه مع توفر شروط الاكراه
٤- ما وصل إليه بجريان ريق خالص طاهر بما بين اسنانه
٥- ما وصل إليه وكان غبار طريق
٦- ما وصل إليه وكان غربلة دقيق ونحوها
٧- ما وصل إليه وكان ذبابا طائرا ونحوها.

○ مسائل منثورة في الصوم :
١- إذا بلغ الصبي، أو أقام المسافر، أو شفي المريض وهم صائمون، حرم عليهم الفطر ووجب علهم الامساك
٢- إذا طهرت الحيض و النفساء، أو افاق المجنون، أو اسلم الكافر في نهار رمضان، استحب لهم الامساك ولا قضاء على المجنون والكافر.
٣- المرتد يجب عليه قضاء ما فاته من الصيام اثناء ردته ولو جن في اثنائها.
٤- من الخطأ الفاحش الواقع فيه كثير من الناس : أنهم عندما يسمعون أذان الفجر يتبادرون إلى الشرب اعتقادا منهم جواز ذلك ما دام المؤذن يؤذن، وذلك لا يجوز، ومن يفعله فصومه باطل، وعليه القضاء ان كان صومه فرضا، لأن المؤذن لا يشرع في الأذان إلا بعد طلوع الفجر، فإذا شرب أثناء الأذان فيكون قد شرب في وقت الفجر، وكل ذلك بسبب الجهل، ولم يقل بذلك أحد من الأئمة المعتبرين.
٥- إذا مات الشخص وعليه قضاء صوم من رمضان او كفارة، وقد تمكن منه ولم يقضه، فيجوز أن يصوم عنه وليه، أو يخرج عن كل يوم مدا.
٦- يجوز في صوم النفل أن يفطر ولو بدون عذر، ولا يجوز الإفطار في صوم الفرض : رمضان أو قضاء أو نذر أو غير ذلك.
٧- يحرم الوصال، وهو : أن يصوم يومين متتاليين بدون أن يتعاطى بينهما مفطرا.
٨- يجب قضاء صوم الفرض على الفور إن افطر بغير عذر، ويجب على التراخي إن افطر بعذر كسفر أو مرض أو نسيان نية.
٩- إذا رأى صائما ياكل، فإن كان ظاهر حاله التقوى فيسن تنبيهه، وإن كان ظاهر حاله التهاون بأوامر الله فيجب تنبيهه.

30/05/2024

KITAB SIYAM ( PUASA ) 09

Beberapa masalah .

1. Hukum jarum suntik / bersuntik adalah boleh apabila dalam keadaan darurat , tapi para fuqaha berbeda pendapat mengenai apakah membatalkan puasa atau tidak , dalam tiga pendapat :
1. Jarum suntik membatalkan puasa kerena obatnya sampai ke dalam perut .
2. Jarum suntik tidak membatalkan karena masuknya tidak melalui manfaz maftuh ( rongga badan ) .
3. Pendapat yang mengatakan bahwa dalam masalah ini ada tafshil yaitu :
1. Apabila yang disuntikkan itu adalah berupa makanan seperti air inpus , maka hal ini dapat membatalkan puasa .
2. Apabila yang disuntikkan itu hanya berupa obat saja maka para fuqaha menjelaskan bahwa :
a. apabila obat yang disuntikkan itu masuk ke dalam urat yang berongga maka hal ini dapat membatalkan puasa .
b. apabila obat yang disuntikkan itu masuk ke dalam otot maka hal ini tidak membatalkan puasa .

2. Hukum riak adalah tafshil :
3. Apabila riak itu sudah sampai batas luar ( had zahir ) kemudian ditelan kembali maka hal ini dapat membatalkan puasa .
4. Apabila riak itu masih dalam batas dalam ( had bathin ) kemudian ditelan kembali maka hal ini tidak membatalkan puasa .
Penjelasan .
Yang dimaksud dengan batas luar adalah tempat keluarnya huruf kha’ , di tenggorokan dan batas dalam adalah tempat keluarnya huruf ha’ besar . Sedangkan para fuqaha berbeda pendapat tentang tempat keluarnya huruf ha’ kecil / tipis , imam Nawawi memasukkannya ke dalam batas luar / had zahir jadi membatalkan puasa apabila menelannya kembali . Sedangkan imam Rafi’I memasukkannya ke dalam batas dalam jadi tidak membatalkan puasa kalau di telan kembali .

3. Hukum menelan ludah adalah tidak membatalkan puasa karena sulit menjaganya tetapi dengan tiga syarat :
1. Air ludah itu bersih , tidak bercampur dengan sesuatu apapun seperti bekas makanan dll .
2. Air ludah itu harus suci , tidak nakjis dengan darah gusi dll .
3. Air ludah itu masih berada di dalam dan mulut terhitung bagian dalam , maka apabila seseorang menelan ludahnya yang berada di bibirnya maka puasanya batal .

4. Hukum masuknya air ke dalam rongga waktu mandi tanpa sengaja adalah tafshil :
1. Apabila mandi itu disyariatkan / diperintahkan oleh agama seperti mandi wajib / junub atau mandi sunnah seperti mandi jum’at maka puasanya tidak batal apabila mandi dengan mencebok , adapun apabila mandi dengan menyelam maka puasanya batal .
2. Apabila mandi itu tidak disyariatkan seperti mandi hanya untuk mendinginkan badan , maka puasanya batal walaupun dengan tidak sengaja , baik ia mandi dengan mencebok atau dengan menyelam .

5. Hukum apabila kemasukan air waktu berkemumur ( madlmadlah ) tanpa kehendak sendiri adalah tafshil :
1. Apabila berkemumur itu disyariatkan / diperintahkan oleh agama baik pada waktu mandi atau wudlu maka kita lihat :
a . Apabila tidak berkemumur dengan sangat maka puasanya sah walupun ada air yang masuk .
b .Apabila berkemumur dengan sangat maka puasanya batal karena berkemumur dengan sangat makruh hukumnya bagi orang yang berpuasa .
2. Apabila berkemumur itu tidak disyariatkan seperti kemumur yang keempat dalam wudlu maka apabila kemasukan air puasanya batal .

7. Al-Istimna’ ( onani ) maksudnya adalah yang termasuk membatalkan puasa adalah mengeluarkan air mani baik dengan tangannya sendiri atau dengan tangan istrinya atau dengan menghayal atau dengan meniduri , hal ini apabila ia tahu kalau hal itu dapat menyebabkan keluarnya air mani , maka apabila air maninya kaluar pada salah satu kelakuan ini maka puasanya batal .

Kesimpulan masalah keluar air mani adalah :
1. Pada dua tempat dapat membatalkan puasa :
1. Apabila dikeluarkan dengan cara istimna’ ( onani ) .
2. Apabila keluar karena memeluk istrinya tanpa busana .
2. Pada dua tempat tidak membatalkan puasa :
1. Apabila keluar tanpa memeluk pasangan yaitu hanya dengan menghayal atau memikirkan .
2. Apabila keluar karena memeluk pasangannya dalam keadaan berbusana .
o Hukum berciuman adalah haram apabila berciuman itu dapat mengerakkan nafsu syahwat tapi apabila tidak maka hukumnya adalah khilaf aula / lebih baik dihindarkan dan puasa itu tidak batal apabila air mani keluar karena berciuman .

8. Al-Istiqa’ah ( sengaja muntah ) artinya yang kedelapan dari hal-hal yang membatalkan adalah apabila seseorang sengaja dan berusaha untuk mengeluarkan muntahnya dan hal itu dapat membatalkan puasa walaupun muntahnya itu keluar sedikit .
o Muntah adalah makanan atau minuman yang keluar sesudah masuk melewati tenggorokan walaupun belum berubah warna atau baunya .
o Hukum apabila seseorang muntah adalah mulutnya mutanajis / terkena nak’jis maka ia wajib mencuci dan berkemumur sampai hilang , sampai batas zahir / luar dan puasanya tidak batal apabila kemasukan air ke dalam tenggorokan tanpa disengaja karena membersihkan nak’jis diperintahkan oleh syariat .

=============================

○ مسائل في وصول العين إلى الجوف :
١- حكم الإبرة : تجوز للضرورة، ولكن اختلفوا في ابطالها للصوم على ثلاثة أقوال :
١- ففي قول : انها تبطل مطلقا، لأنها وصلت إلى الجوف.
٢- وفي قول : انها لا تبطل مطلقا، لأنها وصلت إلى الجوف من غير منفذ مفتوح.
٣- وقول فيه تفصيل وهو الأصح : إذا كانت مغذية فتبطل الصوم، وإذا كانت غير مغذية فننظر :
إذا كان العروق المجوفة وهي الأوردة : فتبطل.
إذا كان في العضل وهي العروق غير المجوفة : فلا تبطل.

٢- حكم النخامة "ومثلها البلغم " : فيها تفصيل :
١- إذا وصلت حد الظاهر فابتلعها بطل صومه.
٢- إذا وصلت حد الباطن فابتلعها فلا يبطل صومه.
وحد الظاهر : مخرج حرف الخاء، وحد الباطن : مخرج حرف الهاء، واختلف في مخرج حرف الحاء، فعند النووي : من حد الظاهر، فتبطل الصوم إذا ابتلعها بعد وصولها اليه، وعند الرافعي : من حد الباطن فلا يبطل ابتلاعها.

٣- حكم ابتلاع الريق : لا يفطر لمشقة الاحتراز منه بثلاثة شروط :
١- أن يكون خالصا، أي : صافيا لا مختلطا بغيره، فلو ابتلع الريق المختلط بنحو صبغ أو بغيره بطل صومه.
٢- أن يكون طاهرا لا متنجسا.
٣- أن يكون من معدنه، فاللسان و الفم كله معدن، فلو ابتلع الريق الذي وصل إلى حمرة شفته بطل صومه.

٤- حكم دخول الماء أثناء الغسل إلى جوفه بدون تعمد للصائم : فيه تفصيل :
١- إذا كان الغسل مأمورا به "مشروعا" فرضا، كغسل جنابة، أو سنة كغسل جمعة، فلا يبطل الصوم إذا اغتسل بالصب، ويبطل إذا اغتسل بالانغماس.
٢- إذا كان الغسل غير مأمور به "غير مشروع" كغسل تبرد او تنظيف فيبطل الصوم إذا سبقه الماء وإن لم يتعمد، سواء اغتسل بالصب ام بالانغماس.

٥- الحكم إذا سبقه الماء من غير اختياره في المضمضة، ومثلها في الاستنشاق: فيه تفصيل :

١- إذا كانت المضمضة مأمورا بها "مشروعة" في الوضوء او الغسل فننظر :
- إن لم يبالغ فيها : فلا يبطل الصوم اذا سبقه الماء.
- إن بالغ فيها : فيبطل الصوم إذا سبقه الماء لأن المبالغة مكروهة من الصائم.

٢- إذا كانت المضمضة غير مأمورا بها "غير مشروعة" بان كانت رابعة او ليست في الوضوء او الغسل : فيبطل بها الصوم وان لم يبالغ.

▪ المفطر السابع : الاستمناء، أي : طلب خروج المني، اما بيده أو بيد حليلته أو بفكر أو نظر إن علم الانزال فيهما أو بمضاجعة، فإذا انزل في إحدى هذه الحالات بطل صومه.

● وخلاصة مسالة خروج المني : أنه تارة يبطل وتارة لا يبطل :
• فيبطل في حالتين :
١- بالاستمناء، أي : طلب خروج المني مطلقا باي كيفية
٢- واذا باشر امرأته من غير حائل.
• لا يبطل في حالتين :
١- إذا خرج من غير مباشرة كنظر أو فكر.
٢- واذا خرج بمباشرة ولكن بحائل.

○ حكم القبلة : تحرم إذا كانت تحرك شهوته، واما إذا لم تحرك شهوته فخلاف الاولى، ولا تبطل إلا إذا انزل بسببه.

▪ المفطر الثامن : الاستقاءة، أي : طلب و تعمد خروج القيء، فيبطل ولو كان قليلا.
والقيء : هو الطعام الذي يعود بعد مجاوزة الحلق ولو ماء، ولو لم يتغير طعمه ولونه.
والحكم إذا خرج منه القيء : أن فمه متنجس، فيجب عليه أن يغسله ويبالغ في المضمضة حتى ينغسل جميع ما في فمه من حده الظاهر، ولا يبطل الصوم اذا سبقه الماء إلى الجوف بدون تعمد، لأن إزالة النجاسة مأمور بها.

30/05/2024

KITAB SIYAM ( PUASA ) 08

Hal-hal yang membatalkan puasa .

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa terbagi dua :

1. Hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa tanpa membatalkan puasa itu dan tidak wajib mengqadaknya hal ini disebut dengan Al-Muhbithat .
2. Hal-hal yang dapat membatalkan puasa sekaligus membatalkan pahalanya disebut dengan Al-Mufthirat dan ini wajib mengqadak puasanya .

Penjelasan .

1. Pertama . Al –Muhbithat yaitu hal-hal yang dapat membatalkan pahala puasa , hal ini berdasarkan hadits :

" قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كم من صائم ليس له من صيامه ال الجوع والعطش "

Artinya : “ Berapa banyak orang yang menjalankan puasa namun tidak mendapat apa-apa kecuali lapar dan dahaga (HR. Dailamy)

1. Al-Gibah yaitu membicarakan aib atau cacat orang lain walaupun benar adanya .
2. An-Namimah yaitu memfitnah orang agar bertengkar dan putus hubungan .
3. Al-Kazib yaitu berdusta , mengabarkan orang dengan yang bukan kenyataannya .
4. Melihat hal-hal yang dihramkan agama .
5. Bersumpah palsu .
6. Berkata keji dan kotor hal ini berdasarkan hadits :

" من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاحة فى أن يدع طعامه وشرابه "
Artinya “ Barang siapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan kotor dan perbuatan keji maka Allah tidak membutuhkan puasanya “ (HR. Bukhari)

2. Kedua . Al-Mufthirat yaitu hal-hal yang dapat membatalkan puasa dan pahalanya ada delapan :

1. Murtad yaitu mengerjakan sesuatu yangdapat membtalkan iman baik dengan ucapan , perbuatan atau dengan keyakinan , murtad ini dapat membatalkan puasa walaupun sebentar .
2. Haid , nifas dan melahirkan ketiganya dapat membatalkan puasa walaupun sebentar .
3. Gila walaupun sebentar .
4. Terkena ayan atau mabuk , hal dapat membatalkan puasa dengan syarat apabila berlangsung sehari dan apabila ia siuman walaupun sebentar maka puasanya sah dan ini yang muk’tamad menurut imam Ramli . Sedangkan menurut imam Ibn Hajar mabuk membatalkan puasa apabila disengaja walaupun sebentar , sedangkan sebagian ulama berpendapat bahwa mabuk tidak membatalkan kecuali apabila sengaja dan berlangsung sehari penuh .
5. Jima’ / berhubungan suami istri ini dapat membatalkan puasa apabila sengaja , tahu hal itu diharamkan dan kemauan sendiri.

Apabila ia batal puasanya dengan syarat-syarat di atas maka ia dikenakan lima hal :
1. Dosa besar .
2. Wajib menahan diri dari semua yang membatalkan puasa .
3. Wajib dita’zir yaitu hakim menurunkan hukum kepadanya menurut kebijakan dan pertimbangan hakim .
4. Wajib mengqadak puasa itu .
5. Wajib membayar kaffarah uzma / tebusan besar yang harus dibayar dengan tertib artinya tidak boleh berpindah kecuali tidak mampu yaitu :
a. memerdekakan budak muslim / muslimah .
b. berpuasa selama dua bulan berturut-turut .
c. memberi makan 60 fakir miskin tiap orang 1 mud .

Kaffarat ini hanya wajib dikerjakan oleh laki-laki saja dan kaffarat ini wajb dikerjakan lagi apabila terjadi pelanggaran lagi .
6. Masuknya sesuatu ke dalam rongga badan ( mamfaz maftuh ) .
Yang dimaksud dengan barang adalah semua bentuk materi baik padat atau cair termasuk asap , lain halnya kalau tidak nampak atau tak berbentuk seperti angin maka tidak membatalkan .
Dan yang dimaksud dengan rongga badan adalah lubang-lubang yang terdapat di badan manusia seperti hidung dan semua lubang badan dalam mazhab syafi’I termasuk rongga yang dapat membatalkan puasa kecuali mata dan telinga menurut imam Al- Gazali . Dan tidak termasuk membatalkan apabila masuknya dengan menyerap seperti lubang pori-pori .
Dan yang dimaksud dengan rongga adalah lubang badan yang berpungsi sebagai jalan makanan atau obat.

===========================

مبطلات الصوم
هي قسمان :
١- قسم يبطل ثواب الصوم لا الصوم نفسه، فلا يجب عليه القضاء، وتسمى محبطات.
٢- قسم يبطل الصوم وكذلك الثواب، إن كان بغير عذر، فيجب فيه القضاء، وتسمى مفطرات.

○ القسم الاول : المحبطات، وهي ما تبطل ثواب الصوم، قال صلى الله عليه وسلم " كم من صائم ليس له من صيامه الا الجوع و العطش".
▪الغيبة، وهي : ذكرك اخاك المسلم بما يكره ولو كنت صادقا.
▪النمينة، وهي : نقل الكلام بقصد إيقاع الفتنة.
▪الكذب، وهو الإخبار بغير الواقع.
▪النظر لما يحرم أو لما يحل بشهوة، أي : بأن يلتذ بالنظر.
▪اليمين الكاذب، أي: الحلف الكذب.
▪قول الزور و الفحش و العمل به، وفي الحديث : "من لم يدع قول الزور و العمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه".

○ القسم الثاني : المفطرات، وهي ما يبطل أصل الصوم، ثمانية :
▪المفطر الأول : الردة، وهي قطع الإسلام بنية أو قول أو فعل ولو كانت الردة لحظة واحدة.
▪المفطر الثاني : الحيض و النفاس و الولادة ولو لحظة من النهار.
▪المفطر الثالث : الجنون ولو لحظة.
▪المفطر الرابع : الإغماء و السكر : إذا عما جميع النهار، واما إذا افاق ولو لحظة واحدة صح صومه وهو المعتمد عند الرملي.
وعند ابن حجر : يبطل إذا تعدى به ولو لحظة، وقال آخرون : لا يبطل إلا إذا تعدى وعم جميع النهار.
▪المفطر الخامس : الج**ع : إذا جامع عامدا، عالما بالتحريم، مختارا، بطل صومه، وإذا أفسد صومه في رمضان يوما كاملا بج**ع تم آثم به للصوم ترتب عليه خمسة أشياء :
١- لحوق الإثم
٢- وجوب الامساك
٣- وجوب التعزير، وهو : التأديب من الحاكم، يكون لغير تائب.
٤- وجوب القضاء
٥- وجوب الكفارة العظمى، وهي احد ثلاثة أشياء مرتبة فلا ينتقل إلى الخصلة الثانية إلا إذا عجز عما قبلها.
١- عتق رقبة مؤمنة
٢- صيام شهرين متتابعين
٣- إطعام ستين مسكينا لكل مسكين مد.
وتجب هذه الكفارة على الرجل لا على المراة، وتتكر الكفارة بتكرر الأيام.

▪المفطر السادس : وصول عين من منفذ مفتوح الى الجوف :
قوله : "وصول عين" خرج به : الهواء، فلا يضر وصول هواء الى الجوف، و كذلك مجرد الطعم
والريح بدون عين فلا يفطر ما وصل منهما إلى الجوف.

قوله : "منفذ مفتوح " خرج به : اذا وصلت العين إلى الجوف من منفذ غير مفتوح كالدهن ونحوه بتشرب المسام، وكل المنافذ مفتوحة في مذهب الإمام الشافعي إلا العين، وكذلك الأذن عند الإمام الغزالي.

قوله : " إلى الجوف" وهو : ما يحيل الغذاء والدواء : كالمعدة او ما يحيل الدواء فقط كالدماغ.

30/05/2024

KITAB SIYAM ( PUASA ) 07

Makruh-makruh puasa delapan :

1. Al-Alk’ yaitu mengunyah makanan tanpa menelannya , karena kalau ada yang tertelan maka puasanya batal .
2. Zauqut tha’am / mencicipi makanan yaitu orang yang perlu mencicipi makanan , tapi tanpa ada yang masuk ke rongga .
3. Ihtijam / berbekam yaitu orang yang mengeluarkan darahnya dengan cara membekam tengkuknya dengan pisau , hal ini makruh dilakukan karena dapat melemahkan badan dan dalam mazhab hambali hukumnya dapat membatalkan puasa .
4. Majjul ma’ / mengeluarkan air yang pertama diminum sewaktu / sesudah berbuka .
5. Mandi dengan menyelam , walaupun mandi wajib .
6. Bersiwak / menggosok gigi sesudah zawal / tergelincirnya matahari , tapi imam Nawawi mengatakan hal ini tidak makruh .
7. Terlalu kenyang , terlalu banyak tidur dan mengerjakan hal-hal yang kurang faedahnya .
8. Memakai hal-hal mubah seperti harum-haruman , mendengar musik dan menonton.

======================

○ مكروهات الصوم : ثمانية :
١- العلك، أي: مضغه بدون أن ينفصل منه شيء إلى الجوف، وإلا صار مفطرا.
٢- ذوق الطعام بدون حاجة مع عدم وصول شيء إلى الجوف، وأما لحاجة فلا يكره.
٣- الاحتجام، وهو إخراج الدم، فيكره خروجا من الخلاف ولأنه يورث الضعف، وكما تكره له أن يحجم غيره.
٤- مج الماء بعد الافطار، أي : إخراجه من الفم فيذهب ما به من بركة الصوم.
٥- الغسل بالانغماس ولو كان الغسل واجبا.
٦- السواك بعد الزوال لأنه يذهب رائحة الفم "خلوف فم الصائم " واختار الإمام نووي عدم الكراهية.
٧- كثرة الشبع والنوم، والخوض فيما لايعني، لأن ذلك يذهب فائدة الصوم.
٨- تناول الشهوات المباحة من المشمومات أو المبصرات أو المسموعات.

30/05/2024

KITAB SIYAM ( PUASA ) 06

● Sunnah sunnah berpuasa ramadlan .

1. Menyegerakan berbuka , apabila sudah yakin matahari sudah tenggelam , adapun kalau masih ragu maka wajib berihtiyath mengundurkannya .
2. Makan sahur walaupun hanya dengan seteguk air , dan waktunya masuk setelah pertengahan malam .
3. Mengakhirkan sahur sampai batas tidak terlalu dekat dengan waktu imsak , dan dianjurkan untuk menahan diri / imsak sebelum subuh selama ukuran 50 ayat Al-Qur’an / seperempat jam .
4. Berbuka dengan korma ruthab ( korma setengah matang ) dengan bilangan ganjil , kalau tidak ada maka dengan busrun ( korma hijau ) kalau tidak ada maka dengan tamar ( korma kering ) kalau tidak ada maka dengan air zam zam kemudian hulwun ( makanan manis yang tidak dimasak ) seperti zabib ( anggur kering ) atau madu , kemudian halwa ( makanan manis yang dimasak ) seperti kolak dll .
5. Membaca doa berbuka :

" اللهم لك صمت وبك آمنت وعلى رزقك أفطرت . ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر انشاءالله . الحمد لله الذى اعاننى فصمت ورزقنى فأفطرت . اللهم انى أسالك برحمتك التى وسعت كل شيء أن تغفرلى "

Artinya : “ ya Allah aku berpuasa karenamu dan aku beriman kepadamu dan dengan rizkimu aku berbuka . Telah hilang rasa dahaga dan telah basah ototku dan telah ada pahala insya Allah . segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa dan memberiku rizki sehingga aku dapat berbuka dan aku memohon dengan rahmatmu yang luasnya melebihi segala sesuatu , maka ampunilah aku “ .

6. Memberi makan untuk orang berbuka .
7. Mandi junub sebelum fajar agar dapat memulai puasanya dalam keadaan suci .
8. Mandi setiap malam agar badan terasa segar untuk melakukan ibadah .
9. Tetap mengerjakan shalat tarawih setiap malam sampai akhir ramadlan , berdasarkan :

" من فام رمضان ايماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه "
Artinya “ Barang siapa yang mendirikan qiyamul lail / tarawih karena iman dan mengharap rida Allah maka Allah akan menghapuskan dosa-dosanya yang telah lewat “ .

10. Tetap mengerjakan shalat witir dan khusus witir pada bulan ramadlan dengan tiga sesuatu :
1. Disunnahkan berjamaah .
2. Disunnahkan dengan bacaan nyaring .
3. Disunnahkan membaca qunut sesudah tanggal 15 sampai akhir ramadlan ini yang muk’tamad .

11. Memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan tadabbur , ini berdasarkan hadits :

" رمضان شهر القرآن "
Artinya : “ Bulan ramadlan itu adalah bulan Al-Qur’an “ .

12. Memperbanyak mengerjakan sunnah-sunnah seperti shalat –shalat sunnah , shalat duha , tasbih awwabin .
13 .Memperbanyak mengerjakan amal salih seperti sadakah , silaturrahmi , menghadiri majlis ta’lim , iktikaf banyak berdoa dll .
14. Memperbanyak zikir dan ibadah pada sepuluh terakhir dari bulan ramadlan , karena ada malam lailatul qadar dan pada tanggal-tanggal waitir / ganjil dilebihkan .
1. Tetap menjaga agar berbuka dengan barang halal , sebagaimana anjuran imam Abdullah bin husen :

( وأفطر على الحلال * يا طالب الكمال )

Artinya : “ Dan berbukalah selalu dengan barang yang halal * wahai pencarai kesempurnaan “ .

2. Memberikan kelebihan pada sanak keluarga .
3. Meninggalkan hal-hal yang tidak ada gunanya dan pertengkran , dan apabila ia dimaki orang maka hendaknya berkata “ maaf saya sedang berpuasa “ .

● Faedah . telah berkata imam Al-Gazali ra “ puasa itu terbagi menjadi tiga :
1. Puasa awam yaitu puasanya orang yang hanya meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa saja namun tidak dapat meninggal hal-hal yang menggugurkan pahala puasa .
2. Puasa khawas yaitu puasanya orang yang dapat menahan diri dari segala yang menggugurkan pahala puasa seperti berbihong , gibah fitnah dll .
3. Puasa khawas al khawas yaitu puasanya orang yang hanya mengingat Allah saja dan lupa dari selain Allah .

======================

○ سنن الصوم و رمضان :
١- تعجيل الفطر إذا تيقن الغروب، بخلاف ما إذا شك فيجب عليه أن يعمل بالاحتياط و يؤخر الفطر.
٢- السحور ولو بجرعة ماء، ويدخل وقت السحور من منتصف اليل.
٣- تأخير السحور بحيث لا يفحش التأخير، ويمسك ندبا عن الاكل قبل الفجر بنحو خمسين آية " ربع ساعة.
٤- الفطر على رطب وترا، فيقدمه اولا، فان لم يجد فبسر فتمر فماء فحلو فحلوى.
• الحلو : وهو ما لم تمسه النار كالعسل و الزبيب.
• الحلوى : وهو ما مسته النار.
٥- الإتيان بدعاء الإفطار وهو : اللهم لك صمت، وبك آمنت، وعلى رزقك أفطرت، ذهب الظما، وابتلت العروق وثبت الأجر ان شاء لله .
الحمد لله الذي اعانني فصمت ورزقني فافطرت، اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفرلي، ويدعو بما شاء.
٦- تفطير الصائمين : لما فيه من الأجر الكبير.
٧- الاغتسال من الجنابة قبل الفجر خروجا من الخلاف، ولكي يبدأ صومه طاهرا.
٨- الاغتسال كل ليلة من ليالي رمضان بعد المغرب لكي ينشط للقيام.
٩- المحافظة على صلاة التراويح من أول ليلة إلى آخر ليلة، قال عليه الصلاة والسلام : من قام رمضان إيمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه ، والمقصود بقيام رمضان : صلاة التراويح.
١٠- تأكد المحافظة على صلاة الوتر، ويختص وتر رمضان بثلاث خصوصيات:
١- أنه تسن فيه الج**عة.
٢- ويسن فيه الجهر.
٣- ويسن فيه القنوت في النصف الاخير من رمضان على المعتمد.

١١- الإكثار من تلاوة القرآن بتدبر، وقد ورد في الاثر : رمضان شهر القرآن.
١٢- الإكثار من السنن، كرواتب الصلوات وصلاة الضحى و التسبيح و الاوابين.
١٣- الإكثار من الأعمال الصالحة، كالصدقة وصلة الرحم وحضور مجالس العلم والاعتكاف و الاعتمار والإقبال على الله، بحفظ القلب والجوارح والدعوات الماثورة.
١٤- الإجتهاد في العشر الأواخر وتحرى ليلة القدر فيها وفي اوتارها آكد.
١٥- تحرى الإفطار على حلال، كما قال الإمام عبد الله بن حسين بن طاهر في " هدية الصديق :

وافطر على الحلال يا طالب الكمال

١٦- التوسعة على العيال.
١٧- ترك اللغو و المشاتمة، فان شاتمه احد فيتذكر بقلبه انه صائم.

▪فائدة : قال الإمام أبو حامد الغزالي صاحب الاحياء.
ينقسم الصوم على ثلاثة أقسام :
١- صوم العموم "العوام" وهو الصوم عن المفطرات المبطلة للصوم.
٢- صوم الخصوص "الخواص" وهو الصوم عن المعاصي.
٣- صوم خصوص الخصوص " خواص الخواص" وهو الصوم عما سوى الله.

30/05/2024

KITAB SIYAM ( PUASA ) 05

● Wajib menjalankan puasa ramadlan dengan lima sesuatu :

- Dua berdasarkan keumuman atau apabila hal ini sudah jelas maka wajib atas semua untuk menjalaankaan puasa yaitu apabila sudah ditetapkan oleh hakim .
- Tiga berdasarkan kekhususan atau hal ini apabila sudah jelas maka wajib atas perorangan .

● Yang wajib atas semua orang / umum ada dua :
1. Dengan menyempurnakan bulan sya’ban 30 hari .
2. Dengan melihat hilal ,oleh orang yang diterima kesaksiannya ( Adil syahadah ) yaitu laki-laki , merdeka , berakal , berwibawa , sadar , dapat berbicara , mendengar , melihat , tidak pernah mengerjakan dosa-dosa besar dan tidak terus menerus mengerjakan dosa-dosa kecil dan ketaatannya lebih banyak dari maksiatnya .
Maksudnya adalah wajib menjalankan puasa atas semua orang yang tinggal di suatu negeri dan siapa saja yang sama terbit matahari di tempat itu ( mat’la’nya ) dan terbenamnya ini menurut imam Nawawi . Sedangkan menurut imam Rafi’I adalah wajib menjalankan puasa atas semua orang yang jauh negerinya tidak lebih dari satu marhalah ( 82 km ) dengan negeri yang melihat hilal itu .

● Yang wajib atas sebagian orang saja / khusus ada tiga :
1. Dengan melihat hilal atas siapa saja yang melihatnya , walaupun ia fasik .
2. Dengan mendapatkan kabar bahwa hilal telah nampak dan ada tafsilnya :
a. apabila yang membawa kabar itu adalah orang yang terpercaya maka wajib atas orang yang dikabari itu untuk berpuasa , baik percaya di dalam hati atau tidak .
b. apabila yang membawa kabar itu adalah orang yang tidak terpercaya maka tidak wajib atas orang yang dikabari itu untuk berpuasa kecuali apabila ia percaya di dalam hatinya .
3. Dengan perkiraan bahwa bulan ramadlan telah masuk berdasarkan ijtihad seperti mendengar suara meriam , atau melihat lampu / obor di menara –menara .

● Beberapa masalah dalam hal melihat hilal .

1. Seseorang berpuasa selama 30 hari berdasarkan berita dari orang yang diyakini benar , maka apakah boleh ia tidak berpuasa sesudah 30 hari ia berpuasa ?
- Menurut imam Ramly boleh ia berbuka /makan tetapi secara tersembunyi . Sedangkan menurut imam Ibn Hajar tidak boleh karena hal tersebut bukan termasuk dalil syariat , lain halnya kalau berita orang adil yang terpercaya dan ia telah berpuasa ihtiyathan , maka wajib ia menahan diri dari makan ihtiyathan juga .
2. Seandainya seseorang musafir dari kotanya ke kota lain pada akhir bulan sya’ban dalam keadaan tidak berpuasa karena tidak melihat hilal ( bulan sabit ) , namun sesampainya di kota itu ia menjumpai penduduknya dalam keadaan berpuasa atau sebaliknya maaka bagaimana hukumnya ?
- Apabila ia menemukan penduduk kota itu dalam keadaan berpuasa maka wajib ia ikut berpuasa . Adapun kalau ia menjumpainya dalam keadaan tidak berpuasa maka menurut imam Ramly boleh ia ikut tidak berpuasa . Sedangkan menurut imam Ibn Hajar ia wajib tetap berpuasa , karena ia berpuasa menurut keyakinannya , jadi tidak boleh hanya dengan melihat orang yang belum berpuasa .
3. Seseorang musafir dari kotanya menuju kota lain pada akhir bulan ramadlan dalam keadaan berpuasa karena belum melihat hilal syawal atau tidak berpuasa karena melihat hilal , kemudin ia menjumpai penduduknya tidak berpuasa atau berpuasa sedangkan ia tidak berpuasa bagaimana hukummnya ?
- Pada kedua hal tersebut wajib ia mengikutinya karena ia telah menjadi bagian dari penduduk itu .

===============================

○ وجوب صوم رمضان : يجب صوم رمضان بأحد أمور خمسة :
اثنان على سبيل العموم، أي : يجبان على الجميع إذا ثبت ذلك عند القاضي.
وثلاثة على سبيل الخصوص، أي على أفراد مخصوصين كما سيأتي.

▪فالذي على سبيل العموم :
١- باستكمال شعبان ثلاثين يوما .
٢- برؤية الهلال بشهادة عدل شهادة، وهو الذي تتوفر فيه شروط الشهادة، وهي : أن يكون ذكرا، حرا رشيدا، ذا مروءة، يقظا،ناطقا سميعا، بصيرا، ولم يرتكب كبيرة، ولم يصر على صغيرة، أو اصر على صغيرة وغلبت طاعته على معاصيه.
معنى (على سبيل العموم) أي : يجب الصوم على جميع اهل تلك البلدة ومن وافقهم في المطلع ( طلوع الشمس وغروبها) عند الإمام النووي. وعند الإمام الرافعي يجب على كل بلدة لا تبعد عنها مسافة القصر ( ٨٢ كم).

▪ والذي على سبيل الخصوص ثلاثة :
١- برؤية الهلال في حق من رآه وان كان فاسقا.
٢- بالاخبار برؤية الهلال، وفيه تفصيل :
إذا كان المخبر موثوقا به وجب الصوم، سواء اوقع في القلب صدقه ام لا، واما إذا كان غير موثوق به فلا يجب الصوم إلا إذا وقع في القلب صدقه.
٣- بظن دخول رمضان بلاجتهاد، فيمن اشتبه عليه كذلك، كسماع مدفع معتاد أو رؤية نار.

○ مسائل في رؤية الهلال :
١- صام رجل ثلاثين يوما بقول من اعتقد صدقه، فهل يجوز له الفطر بعد أن يصوم ثلاثين يوما وان لم ير الهلال؟
▪ يجوز الفطر عند الرملي خفية، وعند ابن حجر : لا يجوز، لأن ذلك ليس بحجة شرعية، بخلاف اخبار العدل وقد صام احتياطا، فوجب عليه الامساك احتياطا.

٢- لو سافر رجل من بلده آخر يوم من شعبان مفطرا لعدم رؤية الهلال إلى بلد آخر، ووجد أهلها صائمين وهو مفطر فما الحكم؟ أو بالعكس سافر صائما لرؤية الهلال ووجدهم مفطرين فما الحكم كذلك؟
▪ إذا وجدهم صائمين وجب عليه موافقتهم، وإذا وجدهم مفطرين فيفطر عند الرملي، ولا يفطر عند ابن حجر، لأن صومه اعتمد على يقين الرؤية فلم يجز له مخالفته بمجرد وصوله إلى بلد آخر.

٣- لو سافر رجل من بلده آخر يوم من رمضان صائما لعدم رؤية الهلال، أو كان مفطرا لرؤية الهلال إلى بلد آخر ووجد أهلها مفطرين وهو صائم، أو ووجدهم صائمين وهو مفطر، فما الحكم؟
▪ في كلتا الحالتين يجب عليهم موافقتهم على الأصح لأنه صار منهم.

Address

Cibaregbeg
43387

Telephone

+6285759662668

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Cahaya ilmu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share

Category