22/03/2026
Di Balik “Target Strategis”, Ada Anak-Anak di Meja Operasi yang Tak Pernah Masuk Briefing Militer
Dalam tiga minggu, 118 anak tewas di Lebanon angka yang, di dunia yang masih waras, seharusnya cukup untuk menghentikan apa pun yang sedang berlangsung.
Tapi ini bukan dunia yang berhenti. Ini dunia yang menghitung, mengarsipkan, lalu melanjutkan seolah tragedi hanyalah data yang menunggu diperbarui.
Di Beirut, American University of Beirut Medical Center tidak lagi sekadar rumah sakit. Ia menjelma menjadi garis depan yang sunyi tempat di mana suara monitor jantung bersaing dengan gema ledakan di kejauhan.
Di dalamnya, Ghassan Abu-Sittah bekerja tanpa jeda, merakit ulang tubuh-tubuh kecil yang dihancurkan oleh sesuatu yang bahkan belum sempat mereka pahami.
Luka yang ia tangani terdengar seperti katalog kehancuran: serpihan logam di perut, amputasi sebagian anggota tubuh, cedera otak, wajah yang berubah sebelum sempat mengenal dunia. Dalam satu anak, bisa ada semuanya sekaligus.
Dan setiap luka membawa satu pesan yang jarang masuk dalam dokumen resmi: tubuh manusia terutama tubuh anak-anak tidak pernah dirancang untuk bertahan dari logika perang modern.
Konflik ini mengikuti pola lama yang terus diulang dengan disiplin yang nyaris mekanis. Roket ditembakkan, serangan dibalas, eskalasi meningkat.
Hizbullah memulai dengan roket pada 2 Maret, Israel merespons dengan serangan udara. Dari sana, segalanya bergerak seperti mesin tua yang dipaksa berlari sprint berisik, panas, dan perlahan kehilangan kendali, tapi tetap dipaksa terus berjalan.
Di atas kertas, istilah seperti “target strategis” dan “balasan proporsional” terdengar rapi, hampir steril. Tapi di lapangan, istilah-istilah itu diterjemahkan menjadi ruang ICU yang penuh, operasi berulang setiap 48 jam, dan dokter yang harus membuat pilihan yang bahkan tidak seharusnya ada.
Karena dalam praktiknya, tidak ada definisi “proporsional” yang benar-benar bertahan ketika yang dipertaruhkan adalah tubuh anak-anak.
… tubuh yang hancur sebelum sempat tumbuh utuh.
… sistem kesehatan yang dipaksa berubah dari tempat penyembuhan menjadi mekanisme bertahan hidup.
… keluarga yang runtuh, meninggalkan anak-anak yang selamat dalam versi kehidupan yang nyaris tak bisa dikenali.
Serangan tidak hanya menghantam bangunan, tapi juga jalur harapan. Empat rumah sakit di pinggiran Beirut terpaksa dievakuasi. Ambulans yang dalam hukum humaniter seharusnya netral berubah menjadi kendaraan berisiko tinggi.
Evakuasi menjadi operasi penuh perhitungan: hanya siang hari, rute terbatas, waktu yang selalu kalah cepat dari luka yang memburuk. Dalam kondisi seperti itu, beberapa anak tidak pernah sampai ke meja operasi bukan karena tak bisa diselamatkan, tapi karena perjalanan menuju keselamatan menjadi terlalu berbahaya untuk ditempuh.
Di antara semua statistik, ada satu cerita yang tidak membutuhkan grafik untuk dipahami: seorang anak laki-laki berusia empat tahun selamat dari serangan, tapi kehilangan orang tua dan tiga saudara kandungnya.
Ia hidup, secara teknis. Tapi hidupnya kini adalah ruang kosong tanpa peta, tanpa pegangan, tanpa siapa pun yang tersisa untuk memanggil namanya pulang.
Di sinilah konflik ini kehilangan semua justifikasinya. Di satu sisi, ada strategi, deterrence, dan kalkulasi kekuatan. Di sisi lain, ada anak-anak yang harus menjalani operasi berulang untuk membersihkan jaringan mati dari tubuh mereka.
Teori berbicara tentang kemenangan. Realitas berbicara tentang bertahan satu hari lagi. Dan sering kali, itu saja sudah terasa seperti kemewahan.
Abu-Sittah menyebut perang sebagai “penyakit endemik” di Timur Tengah. Namun tidak seperti penyakit lain, yang ini tampaknya tidak pernah benar-benar ingin disembuhkan.
Ia dipelihara oleh kepentingan, diperpanjang oleh retorika, dan dinormalisasi oleh kebiasaan. Setiap putaran konflik terasa seperti pembaruan versi lebih cepat, lebih presisi, dan entah bagaimana, lebih efisien dalam menghasilkan luka.
Lebanon, dalam kata-katanya, kini adalah “versi kecil dari Gaza”. Dan dunia mendengarnya sebentar sebelum kembali sibuk merumuskan pernyataan keprihatinan yang semakin hari semakin terdengar seperti template, hanya mengganti nama lokasi dan jumlah korban.
Karena pada akhirnya, ada satu pola yang jarang berubah: mereka yang paling terdampak tidak pernah duduk di meja keputusan. Sementara mereka yang membuat keputusan, hampir selalu berada cukup jauh dari ledakan untuk menyebutnya “strategi”.
Di sebuah ruang operasi, seorang dokter masih bekerja melawan waktu. Bukan untuk memenangkan perang, bukan untuk mengubah peta, tapi untuk memastikan satu anak lagi tidak menjadi angka berikutnya.
Dan mungkin di situlah ironi paling sunyi dari semua ini: ketika negara-negara berbicara tentang kemenangan dan kekalahan, satu-satunya kemenangan yang benar-benar nyata justru terjadi tanpa sorotan ketika seorang anak berhasil bertahan hidup satu hari lebih lama.
Sayangnya, dalam laporan resmi, yang dihitung tetaplah angka.
Bukan nama.